BCA Belum Untung dari Bisnis Uang Elektronik

by on August 16, 2017

Harga Elektronik – PT Bank Central Asia Tbk (Bank BCA) belum juga memperoleh untung dari usaha uang elektronik. Presiden Direktur Bank BCA Jahja Setiatmadja menjelaskan, sampai kini memperoleh untung dari dana endapan di uang elektronik. Keuntungan ini untuk menutupi dari cost operasional.

” Memanglah rugi saat ini, karna bank itu akhirnya dari barusan endapan dana orang-orang. Bila 1 kartu endapan Rp 3 juta lumayan. Cobalah saja kalkulasi contoh margin 5 %, bila Rp 30 ribu (endapan) berapakah Rp 1. 500 perak, Rp 1. 500 perak satu tahun, satu bulan hanya Rp 100 perak untungnya. Cost transaksi sekali jegrek lebih dari Rp 100 perak belum juga untung bila kasar-kasaran tidak akan untung, ” terang dia seperti ditulis di Jakarta, Rabu (21/6/2017).

Jahja menjelaskan, jumlah uang elektronik BCA atau Kartu Flazz sekarang ini sekitaran 6 juta. Rata-rata dana endapan sekitaran Rp 30 ribu. Harga Kulkas

Jahja menyebutkan, dengan dana endapan dana itu kecil kontribusinya untuk pendapatan perseroan. Walau sebenarnya, perseroan juga perlu investasi serta menambal cost operasional agar usaha uang elektronik bertahan.

” Karna apa, karna kita bila cuma berdasar pada endapan dana itu kecil, tahu tidak Flazz card Rp 30 ribu rata-rata. Memanglah jumlah kartu besar ada 6 juta. Namun dana Rp 30 ribu endapan tidak ada berarti sekalipun walau sebenarnya mesti investasi, setiap kali transaksi kan mesti masuk server, mesti ada record itu kan butuh cost operasional. Bila tidak ada cost top up fee, usaha jenis sulit untuk survive, ” terang dia.

Akan tetapi, Jahja menyebutkan belum juga mengkalkulasi angka baik untuk penarikan cost top up uang elektronik itu. ” Tim kita belum juga kerjakan perhitungan. Itu bukanlah buat bank, bank belum juga terima apa-apa, ” dia menandaskan.

Bank Indonesia (BI) memanglah juga akan memberi kelonggaran untuk perbankan penerbit uang elektronik yang berperan serta dalam transaksi di jalan tol. Perbankan diijinkan menarik cost (fee) dari tiap-tiap transaksi isi ulang (top up) uang elektronik yang dikerjakan orang-orang.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengungkap, pemberian hak pada perbankan untuk menarik fee dalam rencana percepatan pemakaian uang elektronik di jalan tol.

” Bila tidak diberi peluang untuk menarik fee tiap-tiap top up, jadi untuk menekan bank besar-besar lakukan penyediaan sarana top up serta sosialisasi kurang cepat, ” tutur Agus di Jakarta, Rabu (31/5/2017).

Penarikan fee tiap-tiap isi ulang uang elektronik ini baru berlaku pada Oktober 2017, berbarengan dengan proses kebijakan semua gerbang tol mesti memakai transaksi uang elektronik.

Sekarang ini, paling tidak baru sekitaran 23-25 % dari semua transaksi di jalan tol yang memakai uang elektronik. Dengan hal tersebut, Agus berasumsi banyak pekerjaan tempat tinggal yang perlu dikerjakan pemerintah dengan Bank Indonesia.

” Tentang besaran fee-nya berapakah, yang pasti kelak tidaklah terlalu besar, serta tentunya dapat buat perbankan itu lebih luas ‎penyediaan uang elektronik serta pemakai jalan tol juga tidak terbebani, ” tutur Agus.

Bank Indonesia sudah setuju memperluas hubungan kerja dengan Kementerian PUPR dalam percepatan pembayaran elektronik di jalan tol. Percepatan itu disetujui dengan lakukan sebagian bagian.

Awal, ada perjanjian untuk wujudkan elektronifikasi jalan tol, dimana semuanya gardu tol telah dapat terima transaksi lewat uang elektronik. Gagasan ini ditargetkan terwujud paling lambat Oktober 2017. Baca Juga : Harga Mesin Cuci